News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Sejarang singkat 8 masyayih/ Wali Zarkasi By Alfadilah.

Sejarang singkat 8 masyayih/ Wali Zarkasi By Alfadilah.


 *SEJARANG SINGKAT TENTANG 8 MASYAYIH/WALI ZARKASI BY ALFADILAH GENUK KT SEMARANG*

1. *Mbah Jumbadi Qubro. Smg*

Syekh Jumadil Kubro, yang bernama asli Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini, adalah ulama pelopor penyebaran Islam di Nusantara dan leluhur para Walisongo. Beliau tiba di tanah Jawa melalui pelabuhan Semarang sebelum melanjutkan perjalanan dakwahnya. Petilasan atau makam beliau di Semarang terletak di daerah Terboyo.Beliau berasal dari Samarkand, Uzbekistan, dan diyakini hidup pada abad ke-13 hingga ke-14 Masehi. Peran historis beliau meliputi:Bapak Walisongo: Merupakan ayah dari Ibrahim Asmoroqondi dan kakek dari Sunan Ampel, yang menjadikan beliau leluhur dari banyak tokoh Wali di Jawa.Rute Dakwah: Sebelum menyebarkan agama hingga ke pedalaman Majapahit, beliau sempat singgah di Semarang dan Demak.Makam/Petilasan: Meskipun makam utamanya diyakini berada di Sentonorejo, Mojokerto, petilasan di Terboyo, Semarang banyak diziarahi masyarakat.


2. *Mbah Sunan Kali Jogo Demak.*

Sunan Kalijaga adalah salah satu anggota Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa melalui pendekatan budaya. Lahir sekitar tahun 1450 dengan nama Raden Said, ia awalnya dikenal sebagai perampok sebelum bertobat dan berguru pada Sunan Bonang untuk menjadi ulama besar.Kisah perjalanan dakwahnya dikenal luas melalui beberapa fase penting:Masa Muda: Bernama asli Raden Said (atau Raden Sahid) dan bergelar Lokajaya, ia merupakan putra Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta. Ia sempat menjadi "Berandal Lokajaya" yang merampok harta orang kaya untuk dibagikan kepada rakyat miskin.Titik Balik: Ia bertobat setelah bertemu dengan Sunan Bonang dan diminta menjaga tongkat di tepi sungai. Setelah bertahun-tahun menunggu tanpa beranjak, ia diangkat menjadi murid dan pendakwah.Strategi Dakwah: Ia menggunakan kesenian tradisional seperti wayang kulit (dengan memasukkan nilai-nilai Islam) dan tembang (seperti Ilir-ilir) untuk menarik simpati masyarakat. Namanya diyakini berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon, tempat ia memulai dakwahnya.Karya Legendaris: Beliau ikut membidani pembangunan Masjid Agung Demak dengan menciptakan soko tatal (tiang dari serpihan kayu).Akhir Hayat: Beliau wafat dan dimakamkan di kompleks pemakaman Kadilangu, Demak. Makamnya hingga kini ramai diziarahi oleh masyarakat.


3. *Mbah Ronggo Kusumo* Ngemplak, Pati.

Syekh Ronggo Kusumo (Mbah Ronggo) adalah tokoh penyebar Islam yang sangat dihormati di wilayah Kajen, Pati. Beliau adalah putra Ki Ageng Mruwut (keturunan bangsawan Tuban) dan memiliki pertalian keluarga (keponakan) dengan ulama besar Kajen, KH. Ahmad Mutamakkin.Sejarah perjalanan dakwah dan pembukaan kawasan Kajen meliputi beberapa peristiwa utama:Asal-Usul dan Masa Muda: Lahir dengan nama Raden Ronggokusumo di Desa Mruwut, Tuban. Beliau dikenal sebagai bangsawan dermawan yang sering membela fakir miskin dengan mengambil hak-hak mereka dari pedagang kaya (sering disebut sebagai Pangeran Cendana di daerah Dawe, Kudus).Berguru kepada Mbah Mutamakkin: Atas perintah ayahnya, beliau pergi ke arah barat menuju Desa Kajen untuk menimba ilmu dan berguru kepada pamannya, Mbah Mutamakkin.Cikal Bakal Desa Ngemplak: Atas instruksi Mbah Mutamakkin, beliau diminta untuk membuka lahan dan berdakwah di hutan sebelah barat Kajen. Konon dalam waktu yang sangat singkat (satu malam), lahan tersebut berhasil dibuka hingga terlihat terang benderang atau emplak-emplak, yang menjadi asal-usul nama Desa Ngemplak Kidul.Haul Mbah Ronggo Kusumo: Untuk menghormati jasa beliau, masyarakat rutin menggelar tradisi Haul setiap tanggal 10 Safar. Peringatan ini diisi dengan ziarah, pengajian, dan tradisi buka luwur.Lokasi Makam: Makam beliau berada di Desa Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati.


4. *Mbah Ahmad Mutamaqin* Kajen Pati.

Syekh Ahmad Mutamakkin (Mbah Mutamakkin) adalah ulama besar dan waliyullah penyebar agama Islam abad ke-18 asal Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Dikenal karena menguasai ilmu tasawuf, ajarannya yang fenomenal dan kisah spiritualnya diabadikan dalam karya sastra Jawa klasik yang dikenal sebagai Serat Cebolek. 

Mbah Mutamakkin hidup sekitar tahun 1645 hingga 1740. Beliau memiliki silsilah keturunan bangsawan yang tersambung hingga Kesultanan Demak (keturunan Raden Patah) dan Sultan Hadiwijaya (Jaka Tinggir). Sebelum berdakwah di Kajen, beliau dikenal cinta ilmu dan sempat menimba ilmu ke berbagai wilayah di Timur Tengah. 

Berikut adalah informasi penting lainnya tentang Mbah Mutamakkin:

Lokasi Makam: Kompleks makam beliau berada di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Tempat ini menjadi destinasi utama wisata religi yang selalu ramai oleh peziarah dan peziarah rutin.

Kawasan Santri: Berkat pondasi keilmuan yang ditinggalkan Mbah Mutamakkin, Desa Kajen kini berkembang menjadi kawasan santri yang dikelilingi oleh ribuan santri dan puluhan pondok pesantren.

Museum Mbah Mutamakin: Bagi Anda yang ingin belajar sejarah, terdapat museum yang menyimpan benda-benda peninggalan bersejarah peninggalan beliau dan replika Masjid Kajen (didirikan 1695). Lokasinya berada di area wudu utara Masjid Jami Kajen. Museum ini dibuka untuk umum dan tidak memungut biaya masuk. Grstis."


5. *Sunan Akadiyat (Mbah Utuh)* Kajen Pati

Sunsn hayadiyat yg di kenal fsmilyer dg sebutan mbah utuh karena warga setempat dalam koplek sekolahan Salafiyah sedang menggali tanah di trmukan jasat utuh bahkan kain kafannya pun masih utuh dan berbahu harum padahal beliau meninggal sudah puluhan tahun maka warga memagil nya mbah utuh. Beliau bukan dari kalangan ulamak atau keturunan bangsawan seperti wali2 lainya.

Beliau orang biasa yang tiap hari kerja serabutan dan tinggalnya pasar Margoyoso kajen Pati. Tiap hari beluau bersih2 pasar dan juga kerja serabutan kenapa beliau kok mendapat karomah dari Allah SWT, Kenapa ternya saat itu beliau tiap tengah malam jelang suwuh selalu mrngisi patasan (trmpat wudhu) padahan air saat itu susah harus menimba dari sumur yang jauh saat itu belum ada pompa air seperti sekarang, beliaunlakukan ihlas tanpa pamrih hingga akhir hayat nya, akirnya di mulyakan oleh Allah  jasat nya utuh dan makom nya sll di mulyakan warga sekitarnya. (by FB Toha Ahmad)


6. *RA Kartini* Mantingan Rembang.

Raden Ajeng Kartini (lahir di Jepara, 1879) adalah pelopor emansipasi perempuan pribumi. Meski terlahir dari keluarga bangsawan dan harus menjalani masa pingitan di usia muda, ia gigih belajar dan menulis surat kepada teman-temannya di Belanda. Kartini bercita-cita memajukan perempuan Indonesia melalui pendidikan, kesetaraan hak, dan kebebasan untuk bermimpi.Perjalanan singkat hidupnya berlanjut hingga ia menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang mendukung penuh impiannya untuk mendirikan sekolah wanita. Sayangnya, beliau wafat pada usia muda di tahun 1904.Pemikiran progresifnya tidak hilang; sahabatnya kemudian membukukan surat-suratnya menjadi buku "Habis Gelap Terbitlah Terang". Untuk mengenang jasa-jasanya memperjuangkan hak perempuan, ia diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan hari lahirnya diperingati setiap tanggal 21 April.


7. *Sunan Bonang* Lasem Rembang.

Sunan Bonang (lahir sekitar 1465 M) adalah putra Sunan Ampel yang menyebarkan Islam di wilayah Lasem dan Rembang. Beliau dikenal sebagai pelopor dakwah melalui kesenian, terutama dengan menciptakan alat musik gamelan Bonang serta menggubah tembang bernapaskan Islam seperti "Tombo Ati".Asal-Usul dan PendidikanNama kecil beliau adalah Raden Maulana Makhdum Ibrahim, putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila (putri Arya Teja, Adipati Tuban).Dalam sejarah Walisongo, Sunan Bonang bersaudara dengan Sunan Drajat dan memiliki ikatan kekerabatan dengan Sunan Giri serta Raden Patah.Semasa muda, beliau menuntut ilmu agama ke Pasai (bersama Sunan Giri), lalu melanjutkan perjalanan ke Mekah.Peran Sunan Bonang di LasemSetelah kembali dari tanah suci, beliau mendirikan pesantren dan pusat penyebaran Islam di pesisir utara Jawa, termasuk mendirikan Zawiyah Watu Layar di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.Di wilayah Bonang (kini masuk Desa Binangun, Lasem), terdapat petilasan bersejarah yang dikenal sebagai Pasujudan Sunan Bonang. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi beliau beristirahat, bersujud (pasujudan), atau bersemedi.Di kawasan tersebut juga terdapat bekas rumah Kadipaten Bonang Binangun yang berkaitan dengan kakak Sunan Bonang, yaitu Nyi Ageng Maloka.Gaya Dakwah dan PeninggalanPendekatan Budaya: Sunan Bonang sangat piawai mengadaptasi budaya Jawa. Beliau mengubah pertunjukan wayang, gamelan, dan tembang Macapat agar lebih mudah diterima dan disusupi nilai-nilai tauhid.Karya Sastra: Beliau menulis karya sastra tasawuf yang terkenal, seperti Suluk Wujil dan naskah-naskah primbon.Setelah mendedikasikan hidupnya untuk dakwah, beliau wafat sekitar tahun 1525. Kini makam beliau berada dan dihormati di kawasan Tuban.


8. *Mbah Maksum* Lasem Rembang.

KH. Ma'shum Ahmad (Mbah Ma'shum Lasem) adalah ulama besar kharismatik asal Lasem, Rembang, yang lahir sekitar tahun 1870. Beliau merupakan salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus ayah dari KH. Ali Ma'shum (Rais Aam PBNU periode 1981–1984).Biografi dan Perjalanan HidupNama Asli: Muhammadun, lahir sebagai putra bungsu dari pasangan KH. Ahmad bin Abdul Karim dan Nyai Qosimah.Nasab: Garis keturunan beliau bersambung hingga ke Sunan Giri dan Sultan Mahmud al-Minangkabau (Sumatra Barat).Pendidikan: Beliau mengaji ke berbagai ulama di Nusantara (termasuk Mbah Umar di Sarang) dan menimba ilmu di Makkah kepada Syekh Mahfud At-Tarmasi.Peran Penting dan KetokohanPendiri NU: Bersama KH. Hasyim Asy'ari, Mbah Ma'shum turut membidani lahirnya NU pada 1926 di Surabaya. Beliau menjabat sebagai Khatib pertama dalam struktur kepengurusan awal.Gelar "Guru Sejati": Meski lebih tua dan memiliki sanad keilmuan yang tinggi, beliau sangat tawadhu’ dan menganggap KH. Hasyim Asy'ari sebagai gurunya dalam ilmu hadis.Semangat Berdagang: Mbah Ma'shum terkenal dengan laku spiritual (riyadah) berdagang. Beliau sering bersepeda ontel dari Lasem ke Jombang untuk berdagang kelontong dan mendirikan kios di pasar.

Semoga mendapat berkah karomah dari Allah SWT... Amin.

Penulis K.A.Robani 

Sumber medsos dll

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment