Bi'ah hasanah barokahan mauludan Nabi Muhammad SAW.
Bid'ah hasanah barokah mauludan Nabi Muhammad SAW.
Semaramg, 20 Agustus 2026 Fjg online, Barokohan atau selamatan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW adalah tradisi masyarakat Muslim lokal, khususnya di Jawa, untuk memperingati hari lahir Nabi. Acara ini diisi dengan membaca salat nabi, doa bersama, dan makan makanan yang dibawa warga secara gotong royong sebagai wujud rasa syukur dan cinta kasih kepada Rasulullah.
Inti Tradisi Brokohan Maulid
Sedekah Makanan: Warga membawa nasi berkat, tumpeng, atau jajanan pasar ke masjid, mushala, atau rumah warga.
Pembacaan Salawat: Acara diisi dengan melantunkan puji-pujian dan salawat Nabi Muhammad SAW.
Doa Bersama: Memohon keberkahan, keselamatan, dan syafaat Nabi.
Kumpul Warga: Makanan dinikmati bersama-sama untuk memperkuat kerukunan.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW didasarkan pada argumen kegembiraan dan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah. Meski tidak ada perintah tertulis yang secara spesifik menyebut kata "perayaan maulid" di dalam Al-Qur'an dan Hadis, mayoritas ulama mengaitkannya dengan beberapa landasan teologis berikut:
1. Landasan Ayat Al-Qur'an
Perintah Bergembira Atas Rahmat Allah: Dalam Surat Yunus Ayat 58, Allah meminta hamba-Nya bersukacita atas karunia dan rahmat-Nya. Nabi Muhammad SAW dipandang sebagai bentuk rahmat yang paling besar bagi alam semesta.
Nabi sebagai Rahmat Semesta Alam: Surat Al-Anbiya Ayat 107 menegaskan tugas kerasulan beliau diturunkan untuk menjadi rahmat bagi seisi alam.
Mengingat Hari-Hari Allah (Nikmat-Nya): Surat Ibrahim Ayat 5 memerintahkan umat untuk mengingat kembali "hari-hari Allah", yang oleh sebagian mufasir diartikan sebagai momentum turunnya nikmat-nikmat besar dari Allah, termasuk lahirnya Rasulullah.
2. Isyarat dari Hadis Nabi
Puasa Hari Senin: Saat ditanya mengapa beliau berpuasa di hari Senin, Nabi menjawab, "Itu adalah hari lahirku dan hari aku diutus atau diturunkannya Al-Qur'an kepadaku" (HR. Muslim). Hal ini dinilai sebagai contoh langsung bahwa Rasulullah sendiri mensyukuri hari kelahirannya.
Perayaan Bersama Mayoritas Umat: Prinsip keagamaan yang menganjurkan untuk berpegang pada kesepakatan mayoritas umat (sawadul a'zham). Karena sebagian besar Muslim sedunia memperingati maulid dengan aktivitas positif, hal ini dikategorikan baik.
3. Pandangan Para Ulama Terkemuka
Imam Jalaluddin as-Suyuthi: Mengategorikan maulid sebagai bid'ah hasanah (inovasi baru yang baik). Amalan ini mendapatkan pahala karena diisi dengan pembacaan Al-Qur'an, sedekah makanan, dan ungkapan rasa bahagia.
Ibnu Hajar al-Asqalani: Menemukan dalil pembenaran (takhrij) dari hadis sahih tentang puasa Asyura yang dilakukan umat Yahudi sebagai syukur atas selamatnya Nabi Musa. Beliau menyimpulkan bersyukur kepada Allah atas nikmat lahirnya Nabi di hari maulid memiliki landasan serupa.
Sebagian kecil kalangan menganggap perayaan ini tidak perlu dilakukan karena tidak dicontohkan secara ritual formal oleh para sahabat terdahulu. Namun, bagi mayoritas umat Islam, kegiatan ini murni merupakan ekspresi cinta dan sarana syiar untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.
(Tyo & tim medsos)

Post a Comment